Rabu, 18 November 2009

Waspada Rabies

Diposting oleh FPBI di 22.26
Rabies menyerang korbannya tanpa ampun. Sekali menyerang, penyakit itu akan membuat korbannya merasakan penderitaan berat berujung kematian kalau tidak ditangani secara tepat.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, hampir 100 persen korban rabies meninggal dunia.

Virus rabies yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan hewan penular, kebanyakan anjing, akan berkembang di otot sekitar gigitan, kemudian menyerang susunan syaraf tepi lalu bergerak ke otak.

Setelah sampai di otak, virus yang termasuk ke dalam famili Rhabdovirus dan genus Lyssa virus itu, akan menyebar ke jaringan-jaringan lain secara cepat sehingga kebanyakan korban tak menyadarinya. Sumber : Antara News

Gejala serangan virus berbentuk peluru itu, menurut Tjandra, rata-rata muncul dalam waktu 2-8 minggu sampai dua tahun dengan empat stadium manifestasi klinis.

"Ada empat stadium manifestasi klinis, tapi seringkali susah dibedakan karena penyakit ini berkembang dengan cepat," katanya.

Tanda yang kemungkinan tampak jelas, lanjut dia, umumnya berupa rasa nyeri pada bekas luka gigitan, takut air (hydrophobia), takut angin (aerophobia), takut cahaya (photophobia) dan takut suara keras.

Kondisi itu akan membuat penderita menjadi bereaksi secara berlebihan terhadap lingkungan sekitarnya serta menjadi mudah sedih, gelisah, dan marah.

Lama kelamaan, penderita akan merasa sesak seperti tercekik kemudian sedikit demi sedikit tidak bisa lagi merasakan tubuhnya sampai tidak lagi bernafas.

Aisyah bersyukur putri ketiganya, Tika, tidak harus mengalami penderitaan berat itu setelah digigit anjing penular rabies tanggal 16 Februari lalu.

Gigitan anjing gila sepanjang delapan sentimeter dengan dalam tiga sentimeter dari pipi hingga ujung bibir itu hanya meninggalkan bekas luka yang menjadi keloid pada wajah putri kecilnya yang kini berusia 3,5 tahun.

"Dia cuma jadi takut melihat anjing tetangga. Dua kakaknya juga ," kata istri almarhum Anda yang tinggal di Kampung Wates, Desa Godog, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut tersebut.

Kejadian itu tidak menyebabkan putrinya mengalami penderitaan berat karena setelah tergigit anjing, Tika langsung dibawa ke Puskesmas dan ditangani dengan baik oleh petugas kesehatan.

Petugas langsung mencuci luka pada pipi dan ujung bibir Tika dengan air mengalir selama sepuluh menit dan memberinya antiseptik.

Tika juga diberi Vaksin Anti-Rabies (VAR) pada hari pertama tergigit serta tujuh hari dan 21 hari sesudahnya.

"Dulu sempat rewel sedikit, mungkin karena lukanya. Sekarang tidak lagi, sudah baik," kata Aisyah sambil menggendong Tika dan boneka kecilnya yang berambut pirang.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat bata dengan penghasilan Rp10 ribu per hari itu hanya masih harus rutin membawa Tika ke Puskesmas untuk kontrol.

"Diminta datang untuk periksa tiap enam bulan sampai dua tahun," kata Aisyah yang sore itu mengenakan baju merah muda dan kerudung hitam.

Menyebar Luas

Tjandra mengatakan, hingga kini penyakit rabies masih dilaporkan terjadi di 24 dari 33 provinsi di Indonesia.

Jumlah kasus gigitan hewan penular rabies tercatat sebanyak 19.625 kasus pada 2007 dan naik menjadi 21.245 kasus pada 2008 sementara jumlah pasien rabies bertambah dari 104 orang pada 2007 menjadi 122 orang pada 2008.

"Pasien rabies, yang biasa disebut Lyssa, jumlahnya rata-rata 100 orang per tahun. Terlihat tidak besar. Tapi masalahnya, tingkat kematian akibat penyakit ini hampir 100 persen," katanya.

Penyakit yang kebanyakan menular melalui gigitan anjing itu juga masih menimbulkan kejadian luar biasa penyakit di Provinsi Maluku, Maluku Utara dan Kalimantan Barat tahun 2003 dan Banten pada akhir tahun 2007 dan Kabupaten Badung, Bali, pada bulan November 2008.

Hanya sembilan provinsi yang dinyatakan bebas rabies yakni Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua Barat, dan Papua.

Pemerintah, lanjut Tjandra, melakukan berbagai upaya untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh virus rabies tersebut dan menargetkan seluruh daerah bebas rabies pada 2015.

Upaya pemberantasan rabies antara lain dilakukan dengan menerapkan program pengendalian terpadu lintas sektor, membangun "Rabies Center" untuk mempercepat penanganan kasus, melindungi kelompok berisiko dan melibatkan masyarakat dalam kegiatan penanggulangan.

Langkah pemberantasan rabies terpadu antara lain dilakukan melalui kegiatan penyuluhan, pendataan dan registrasi anjing, vaksinasi dan depopulasi anjing, observasi hewan, pengamatan dan penyidikan penyakit serta pengawasan lalu lintas hewan penular rabies.

Menurut Direktur Kesehatan Hewan pada Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Agus Wiyono, pencegahan penularan rabies pada anjing mesti diintensifkan mengingat 90 persen penyakit rabies menular melalui gigitan anjing dan hanya 10 persen yang menular melalui gigitan hewan lain seperti anjing dan kera.

Ia menjelaskan, cara paling efektif untuk mencegah penularan rabies pada anjing adalah dengan melakukan vaksinasi antirabies pada anjing, memusnahkan anjing-anjing liar dan memperketat pengawasan lalu lintas anjing.

Pengawasan lalu lintas hewan penular ini penting karena penyebaran rabies sebagian besar terjadi karena masuknya hewan penular dari daerah lain.

Ia mencontohkan, wabah rabies terjadi di Bali yang sebelumnya tidak memiliki sejarah kasus rabies pada 2008.

Hal itu, menurut dia, kemungkinan terjadi karena masuknya anjing-anjing penular rabies bersama nelayan tradisional dari Pulau Flores.

"Flores sebelumnya juga bebas rabies. Hanya baru-baru ini kasus rabies muncul. Penularannya diduga berasal dari Sulawesi karena jenis virusnya sama dengan virus rabies yang ada di Sulawesi," jelasnya.

Agus mengatakan, pemerintah telah membangun pusat-pusat pengawasan lalu lintas hewan dan karantina hewan untuk mencegah penyebaran hewan-hewan penular rabies meski cakupannya belum menyeluruh.

Kemampuan pemerintah, lanjut Agus, dalam hal ini masih terbatas karena masalah-masalah klasik seperti kurangnya pendanaan dan sumber daya.

Agus berharap selanjutnya pemerintah daerah dan anggota masyarakat berpartisipasi aktif dalam upaya pemberantasan penyakit ini.

Masyarakat bisa berpartisipasi dengan tidak membiarkan anjing-anjing bebas berkeliaran di jalanan dan memberikan vaksinasi anti rabies pada anjing peliharaan.

"Mereka sebaiknya belajar mengenali anjing penular rabies dan apa yang harus dilakukan jika terlanjur tergigit," katanya.

Anjing yang terinfeksi virus rabies, jelas Agus, bermata merah, mengeluarkan banyak air liur, agresif, berdiri kaku dengan ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya serta menyerang orang, hewan dan benda yang bergerak.

"Jika menemukan anjing yang dicurigai rabies, sebaiknya segera melapor ke dinas peternakan atau membunuhnya kemudian membawa kepalanya ke dinas supaya bisa diobservasi," katanya serta menambahkan anjing yang terinfeksi rabies tidak hidup lama.

Ia menambahkan, pembunuhan anjing sebaiknya dilakukan dengan mengenakan perlengkapan pelindung seperti masker, tutup kepala, dan sarung tangan untuk mencegah penularan.

Apabila anjing terlanjur menggigit, Tjandra menjelaskan, korban gigitan sebaiknya dicuci lukanya dengan sabun pada air mengalir selama 10 menit hingga 15 menit kemudian diberi desinfektan.

"Kemudian dibawa ke sarana pelayanan kesehatan atau Rabies Center supaya mendapat perawatan sesuai standar, termasuk diberi vaksin anti rabies bila ada indikasi," katanya.

Hal-hal yang terlihat sepele itu, menurut dia, bisa menyelamatkan nyawa manusia dari serangan virus yang bisa bertahan hidup berbulan-bulan pada suhu minus empat derajat Celsius itu.

0 komentar on "Waspada Rabies"

Posting Komentar

 

Mitigasi Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez