Relawan FPBI

Telah 3 tahun, tugas para relawan FPBI dalam aksi kemanusiaan di wilayah Bencana Kegagalan Teknologi yang dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo, di Kec. Porong, Sidoarjo

Selasa, 28 April 2009

Cara Proteksi Diri Terhadap Flu Babi

Diposting oleh FPBI di 06.55 0 komentar
Untuk melindungi diri sendiri, praktek umum langkah-langkah preventif untuk Flu Babi:
  • Hindari hubungan dengan orang-orang yang tampak kurang sehat dan ada yang demam dan batuk.
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air dengan sering dan teliti.
  • Lakukan praktek kesehatan yang baik termasuk kebiasaan tidur, makan makanan bergizi, dan tetap aktif secara fisik.
Jika ada orang di rumah Anda sakit Flu Babi:
  • Cobalah untuk memberikan orang terjangkit pada bagian terpisah di rumah. Jika hal ini tidak memungkinkan, pasien tetap setidaknya dalam jarak 1 meter dari yang lain.
  • Tutupilah mulut dan hidung saat merawat orang yang sakit. Masker komersial dapat dibeli atau dibuat dengan menggunakan bahan yang tersedia. Setelah digunakan dapat dibuang di tempat sampah yang benar atau dibersihkan dengan benar.
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air setelah dengan teliti setiap kontak dengan orang sakit.
  • Cobalah untuk memperbaiki aliran udara di daerah di mana orang sakit tersebut. Gunakan pintu dan jendela untuk mengambil sirkulasi udara dari angin.
  • Jaga agar lingkungan tetap bersih dengan bahan pembersih rumah tangga.
  • Jika Anda tinggal di negara di mana babi influenza telah menyebabkan penyakit pada manusia, ikuti nasihat dari Departemen Kesehatan atau Rumah Sakit setempat yang berwenang.
Apa yang harus Anda lakukan jika Anda terjangkit Flu Babi?
  • Jika Anda merasa sakit, demam tinggi, batuk dan atau sakit tenggorokan:
  • Tetap di rumah dan menjaga diri dari pekerjaan, sekolah atau kelompok sebanyak mungkin.
  • Istirahat dan menambah banyak cairan (minum).
  • Tutupilah mulut dan hidung Anda dengan sekali penutup, ketika batuk dan bersin buanglah di tempat yang semestinya.
  • Cucilah tangan dengan sabun dan air sesering mungkin dan teliti, terutama setelah batuk atau bersin.
  • Beritahu teman dan keluarga tentang penyakit tersebut dan berusaha untuk tidak membantu pekerjaan rumah tangga yang memerlukan kontak dengan orang lain seperti belanja.

Jika Anda memerlukan perhatian medis:
  • Hubungi dokter Anda atau fasilitas kesehatan setempat sebelum melakukan perjalanan untuk melihat kesehatan dan laporan gejala tersebut. Menjelaskan mengapa Anda berpikir Anda telah babi Influenza (misalnya, jika Anda baru-baru ini melakukan perjalanan ke negara di mana terdapat wabah Flu Babi pada manusia). Mengikuti saran yang diberikan kepada Anda untuk perawatan.
  • Jika tidak memungkinkan untuk menghubungi petugas kesehatan setempat pada saat itu, berkomunikasilah Anda dengan petugas atau fasilitas kesehatan ketika memiliki kecurigaan dari Flu Babi segera setelah tiba di Bandara tujuan.
  • Berhati-hatilah untuk menutupi hidung dan mulut selama perjalanan.
Sumber : WHO

Minggu, 26 April 2009

Mitigasi Flu Babi

Diposting oleh FPBI di 11.42 0 komentar
Flu Babi, pandemi lama dengan versi baru memang mengejutkan dunia. Regenerasi virus flu ini telah merepotkan perhatian kesehatan publik di dunia. Ditularkan lewat udara, penyakit influenza atau flu sebenarnya sudah dikenal orang sejak ratusan tahun lalu. Ketika muncul batuk-pilek, orang langsung tahu inilah gejala flu. Serangan yang lebih berat umumnya dibarengi demam (suhu naik sampai 38-40o C), sakit kepala, radang tenggorokan, lemas, mual, dan ngilu tulang. Masa inkubasi flu berlangsung 1-2 hari.Flu, pada dasarnya gampang diatasi. Setelah diberi obat penurun panas, obat batuk, antibiotika, serta istirahat cukup, kondisi tubuh biasanya akan kembali pulih. Mengapa penyakit flu mampu demikian “setia” menemani umat manusia sampai sekian lama? Bila ditengok sifat genetisnya, virus flu dikenal sebagai virus yang tidak stabil. Ia sering bermutasi akibat pertukaran gen. Sebab itu kita sering mendengar munculnya jenis flu-flu “baru” yang sulit sembuh, lebih parah gejalanya, bahkan sampai menelan banyak korban.
Gara-gara Unggas dan Babi
Ledakan flu pertama terjadi antara tahun 1889-1890. Namun wabah terhebat muncul di tahun 1918. Di seluruh dunia, korban berjatuhan sampai + 20 juta orang. Di AS saja, wabah ini merenggut 550.000 jiwa. Kemudian ia menyebar begitu cepat sampai ke bagian yang terpencil di Alaska, Samoa Barat di Pasifik Selatan, terus ke India dan di sana menewaskan 12,5 juta penduduk. Belum lagi di Eropa. Tak diketahui alasannya, satu-satunya benua yang terbebas dari ancaman virus flu saat itu hanyalah Australia.
Manusia membutuhkan cukup banyak waktu untuk meneliti sebab musababnya, sehingga baru tahun 1930 penyebab flu hebat tersebut berhasil diidentifikasikan. Ternyata virus flu tersebut berasal dari babi, sehingga penyakit flunya dinamakan swine flu. Sumber penyebarannya dipercaya dari sebuah tanah pertanian di daerah Midwest (Barat-Tengah), AS, tempat orang beternak babi di tanah-tanah pertanian keluarga. Penasarannya dunia kedokteran terhadap flu superganas itu terbukti dengan masih berlangsungnya penelitian terhadap swine flu itu hingga kini.
Misalnya saja, baru-baru ini Departemen Pertahanan AS menemukan contoh jaringan paru-paru seorang tentara AS berusia 21 tahun yang meninggal tahun 1918, hanya 5 hari setelah terserang flu. Contoh jaringan yang sudah sekitar 80 tahun tersimpan rapi di Washington ini diharapkan akan membantu manusia membuka tabir lebih dalam lagi tentang lika-liku penyebab flu babi tersebut.
Menurut Jeffery K. Taubenberger MD.PhD., yang banyak meneliti penyakit pandemi, tipe virus flu di awal abad ini memang langka dan mematikan. Peneliti dari bagian Patologi Institut Angkatan Bersenjata AS ini juga menyimpulkan, tentara Amerika banyak berperan dalam menyebarkan suatu jenis penyakit flu ke Eropa, yang anehnya, kemudian dikenal sebagai flu Spanyol! Padahal di pengujung PD I itu tentara AS (yang sadar atau tidak sudah banyak terserang flu) dikirim ke Prancis, bukan ke Spanyol.
Robert Webster MD dari RS anak St. Jude di Memphis, AS, mengemukakan hasil pengamatan yang amat menarik. Rupanya semua gen virus flu di dunia ini mempunyai tempat-tempat persinggahan sebelum sampai di tubuh manusia. Dari tubuh unggas aquatik (sering berhubungan dengan air) seperti bebek dan burung camar, virus ditularkan ke babi, lalu baru ke manusia.
“Pada tubuh babi virus flu diubah gennya untuk kemudian dimunculkan kembali. Flu Hongkong dan flu Asia merupakan hasil proses penataan kembali ini,” kata Webster. Namun pendapat Webster ini masih banyak diperdebatkan, karena banyak ahli lain berpendapat swine flu ganas hanya akan muncul setiap 100 tahun.
Lepas dari silang pendapat itu, Maret lalu ternak babi di Malaysia (khususnya di daerah Selangor) banyak yang mati terkena penyakit ensefalitis (radang selaput otak) Jepang. Sebelumnya, Oktober tahun lalu, virus penyebab ensefalitis ini pernah menyerang ternak babi di daerah Perak. Akhirnya pemerintah Malaysia menyarankan pembantaian terhadap ribuan ternak babi. Belum jelas virus apa yang menyerang babi tersebut. Yang jelas, penyakit ensefalitis memang bisa merupakan komplikasi penyakit flu, meski virus flu bukanlah satu-satunya kemungkinan penyebab penyakit selaput otak. Namun, mau tak mau orang jadi bertanya-tanya, mungkinkah virus yang menyerang para babi di Malaysia itu rumpun virus sejenis yang bermutasi?

Mutasi gen
Virus flu berasal dari beberapa rumpun myxovirus yang dikategorikan sebagai tipe A, B, dan C. Tipe A merupakan tipe penyebab flu utama, muncul dalam beberapa jenis rumpun, yang secara klinis dapat dibedakan berdasarkan tempat pertama kali ditemukan, laboratorium yang menemukan, serta kapan diperolehnya. Tipe A mempunyai subtipe protein H dan N. Kalau virus A paling sering menyerang manusia, tipe B dan C jarang menyerang manusia; kalaupun menyerang sifatnya ringan, dan tidak mewabah.
Walaupun gejala infeksi antara tipe utama dengan yang lain hampir sama, secara antigen sama sekali berbeda, sehingga orang yang kebal terhadap tipe yang satu tidak berarti kebal terhadap tipe yang lain. Bentuk virus flu ada yang bulat, ada pula yang seperti kawat pijar. Inti virus terdiri atas bahan genetika RNA (ribose nucleic acid). RNA ini mengandung semua gen yang penting bagi virus untuk hidup dan berkembang. Setiap helai RNA berisi nukleoprotein. Salah satu subtipe A dikenal sebagai H2N2. Inilah flu Asia yang pertama muncul di Asia Timur, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Epidemi ini dipercaya terjadi 2-3 tahun sekali. Subtipe lain ada yang disebut H1N1 dan H3N2. Virus flu yang menyebar di Indonesia pada umumnya virus H3N2. Berat ringannya serangan tergantung tingkat kekebalan seseorang. Sekitar Maret 1997, muncul virus flu tipe lain yakni subtipe H5N1 terkenal sebagai Avian flu alias flu burung. Flu ini telah membabat habis + 6.500 ekor unggas di Hongkong.
Dua bulan kemudian, flu ganas tiba-tiba juga menyerang seorang anak laki-laki berusia 3 tahun di Kowloon, Hongkong. Bocah itu akhirnya meninggal. Setelah diteliti, ternyata penyebabnya adalah virus flu burung tipe H5N1 juga.Desember 1997 muncul lagi infeksi flu H5N1 pada manusia, dengan komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis (radang selaput otak), yang kalau tidak segera ditangani akan fatal. Keruan saja, pemerintah Hongkong akhirnya memutuskan pemberantasan besar-besaran dengan membunuh semua unggas yang dijualbelikan di pasaran. Suatu keputusan yang tentu tidak nyaman bagi para peternak.
Kini yang perlu diwaspadai, apabila terjadi perkawinan antara virus flu burung (atau virus H5N1) dengan virus H3N2 yang memungkinkan lahirnya “supervirus” H5N2. Soalnya, H5 dari flu burung membawa sifat letalitas tinggi, sedangkan N2 mempunyai daya tular yang cepat!

Menghantam supervirus

Usaha pencegahan penyebaran flu ganas sebenarnya bisa dengan vaksinasi. Tapi rupanya cara ini secara umum belum diterapkan di Indonesia. Seorang penderita dengan diagnosa flu berat kini juga bisa menjalani tes di laboratorium khusus. Dengan mengambil usapan jaringan dari tenggorokan, lubang hidung bagian dalam atau tes darah, dapat diteliti dengan cepat antibodi penderita yang sedang dihinggapi virus flu. Cara ini dinamakan tes diagnostik kilat. Sayang, pemeriksaan seperti ini juga belum populer di Indonesia.
Atas dukungan WHO, kini dikembangkan pula vaksin virus flu H5N2. Soalnya penderita 65 tahun keatas atau orang pengidap penyakit kronis seperti jantung, paru-paru, ginjal, diabetes anemia, bila terkena flu cenderung lebih berat penderitaannya dibandingkan yang lebih muda dan sehat. Sebab itu vaksin ini sangat disarankan di panti-panti wreda. Juga disarankan bagi anak-anak atau remaja yang sudah lama mendapatkan terapi aspirin dan mereka yang berisiko terjangkit sindrom Reye. Sindrom Reye adalah serangan mendadak berupa gangguan pernafasan dan pencernaan selama beberapa hari dan berakhir dengan pembengkakkan otak yang ditandai dengan kejang atau koma. Sindrom Reye adakalnya muncul sebagai komplikasi dari flu berat.
Efek sampingan setelah mendapatkan vaksin flu, paling-paling hanya alergi. Itupun hanya terjadi pada beberapa orang yang sangat alergi terhadap telur. Soalnya virus yang digunakan dalam vaksin tersebut dikembangbiakkan dalam telur ayam. Hanya kurang dari 1/3 orang yang menerima vaksin merasakan sakit dan hanya 5-10% mendapatkan efek sampingan (kebanyakan pada anak-anak)seperti pusing atau sedikit demam seperti menderita flu ringan. Tapi ini pun hanya terjadi pada anak yang belum pernah terserang virus influenza sebelumnya. Menurut para ahli, vaksin yang diproduksi tahun 1940 s/d pertengahan 1960-an, menimbulkan efek sampingan karena tidak semurni vaksin buatan zaman sekarang. Oleh karena itu vaksin buatan zaman sekarang diharapkan tidak membawa efek sampingan. Efektivitas vaksin sangat tergantung pada tingkat kesamaan antara jenis virus dalam vaksin dengan virus yang sedang menyerang. Jenis vaksin harus ditentukan 9-10 bulan sebelum datangnya musim flu. Sulitnya, di negara tropis seperti Indonesia, flu datang di segala musim, sehingga lebih sulit. Berhubung virus flu terus bermutasi, kalau waktu pemberian vaksinnya tidak tepat, tentu akan mengurangi kemampuan penyerapan antibodi vaksin yang berguna untuk merintangi mutasi virus baru.

Akibatnya efektivitas vaksin berkurang.
Efektivitas vaksin juga bervariasi antara satu orang dengan orang lain. Pada para dewasa muda, efektivitas mencapai 70-90% dalam mencegah penyakit ini. Sedangkan pada lansia dan mereka dengan penyakit kronis, efektivitas vaksin berkurang, tapi paling tidak, akan mengurangi beratnya penderitaan, risiko komplikasi dan kematian.
Penelitian menunjukkan, pada lansia, vaksin bisa mengurangi perawatan di rumah sakit sampai 70% dan kematian sampai 80%. Risiko mendapat pneumonia berkurang sampai 60%. Penting diingat, antibodi yang diproduksi tubuh dalam merespons vaksin setiap waktu menurun, umumnya satu tahun setelah vaksinasi. Juga mengingat virus suptipe berlainan bisa datang setiap waktu (akibat mutasi gen), maka disarankan vaksin diberikan 1x setiap tahun. Vaksin flu juga bisa diberikan pada wanita hamil pada trisemester kedua atau ketiga masa kehamilan selama musim flu. Kegunaan vaksinasi pada wanita hamil untuk mencegah komplikasi bila terkena flu. Vaksin flu juga diberikan kepada para ibu menyusui.

Jaga jarak
Pada umumnya memang agak sulit mencegah tertularnya penyakit flu terutama bila musim flu sedang melanda. Paling-paling sedapat mungkin menjauhi orang-orang yang sedang terkena flu. Dr. J. Widyaharsana, DE.F.A.C.B dari RS Pondok Indah, Jakarta, menyarankan, kalau kita bertemu dengan seorang penderita di ruang sempit, usahakan berpaling dari penderita. Ini untuk menghindari kita terkontaminasi mukosa hidung dan mata dari si penderita. Selain itu, meski kita dalam kondisi sehat, jangan pula terlalu sering menggosok-gosok hidung dan mata dengan jari-jari kita. Siapa tahu jari-jari kita telah melakukan kontak dengan penderita flu. Gunakan kertas tisu atau sering-seringlah mencuci tangan untuk menghindari penularan.
Sedapat mungkin hindari hadir bersama-sama penderita flu dalam ruang tertutup/ber AC, misalnya dalam lift. Namun bila keadaan itu tak dapat dihindari, misalnya di ruang kantor atau dalam pesawat terbang, gunakan obat semprot hidung yang mengandung larutan NaCl-fisiologis.
Banyak minum (sedikitnya 8 gelas air atau jus buah/hari) dapat pula membantu mencegah tertular flu. Vitamin E (200 IU/hari) juga membantu meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Vitamin C juga berperan dalam mengurangi penderitaan akibat flu dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, asalkan tidak melebihi 500mg/hari. Penggunaan vitamin C secara berlebihan dapat menyebabkan diare dan meningkatkan asam lambung. Sumber : Hotarticle.com

Peringatan Dini Flu Babi

Diposting oleh FPBI di 11.13 0 komentar
Penetapan status darurat kasus swine flu (flu babi) oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), membuat Departemen Kesehatan mengedarkan surat kewaspasdaan dini, ke seluruh kantor kesehatan. "Ini langkah antisipasi, kami belum tahu situasinya seperti apa," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama ketika dihubungi Ahad (26/4). Sabtu (25/4) sore telah dikumpulkan aparat kesehatan di pelabuhan di seluruh Indonesia untuk mengaktifkan dan memastikan thermal scanner bekerja dengan baik. Saat ini seluruh perwakilan kantor kesehatan tengah berkumpul mengikuti simulasi Pandemi Flu Burung di Makasar. "Sekalian membahas situasi terakhir dan pengetatan lalu lintas pintu masuk lewat bandara dan pelabuhan" imbuh Yoga. Departemen Kesehatan juga membentuk kerjasama dengan Departemen Pertanian untuk membentuk tim terpadu penanggulangan kasus zoonosis (penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia)
Upaya pencegahan masuknya flu babi ke Indonesia, kata Tjandra, tergantung situasi yang terjadi. Langkah yang sudah dilakukan hingga Ahad ini adalah mengumpulkan data dan kajian ilmiah serta berkoordinasi dengan WHO. Departemen kata Tjandra juga mempersiapkan pemeriksaan laboratorium utk Flu Babi.
Flu babi, jelasnya adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan penularan antar manusia. "Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza,gejala klinisnya sama," tambahnya Cara penularannya, Ia menambahkan bisa melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita. Masa inkubasinya 3 sampai 5 hari. Tjandra mengingatkan antisipasi penyebarannya dengan menjaga pola hidup bersih. Tercatat hingga saat ini 8 kasus positif (confirm) di Amerika Serikat dan di Meksiko sebanyak 878 kasus dan 60 diantaranya meninggal dunia (20 kasus positif flu babi). Sumber : Tempo Interaktif.com

Sabtu, 25 April 2009

Karakteristik Gunungapi Slamet

Diposting oleh FPBI di 12.01 0 komentar
Sejarah terakhir letusan Gunungapi Slamet terjadi pada 12-13 tahun 1988, ditandai dengan keluarnya abu dan lava dari kawah gunung api di bagian barat Jateng itu. Terkadang aktivitas vulkaniknya menggeliat dalam tempo satu tahun dengan melontarkan letusan, tapi bisa juga dalam jangka waktu hingga 53 tahun baru meletus kembali. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Dr Surono, secara karakter apabila terjadi letusan besar, bahaya utama yang dapat ditimbulkan Slamet adalah berupa luncuran awan panas, lontaran piroklastik seperti bom vulkanik, pasir dan abu serta aliran lava.

Nama :G. Slamet
Nama Lain :Slamat
Nama Kawah :K1, K2, K3 dan K4
Lokasi Geografi :71.14.30 LS dan 109.12.30 BT
Lok. Admin :Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal dan Purbalingga, Jawa Tengah
Ketinggian :3.432 m dpl
Kota Terdekat :Bumiayu, Purwokerto, dan Purbalingga
Type Gunungapi :Strato
Pos Pengamatan :Desa Gambuhan, Kab. Pemalang

Cara Pencapaian
Untuk mencapai kawah G. Slamet, pendakiannya dilakukan dari arah timur, yakni dari Bambangan. Pada tahun 1853, Junghuhn mendaki puncak G. Slamet melalui kampung Priatin, sebelah timur Kutabawa. Dalam 1923 Taverne mendaki puncaknya juga dari arah timur. Matahelumual (1961) dan Siswowidjojo (1970) mendaki puncaknya dari kampung Bambangan. Dalam tahun 1973 pendakian dari sini sampai puncaknya memerlukan waktu lk. 7 jam, kembalinya hanya dalam waktu 3 jam. Sampai ketinggian 1400 m dimana - mana masih terdapat kebun rakyat, dan setelah itu sampai ketinggian 1700 m yang ada hanya hutan pinus. Selanjutnya melalui hutan lebat dengan kayu - kayuan yang besar sampai ketinggian 2600 m, disini sebagian jalan setapak harus dirintis karena tertutup semak belukar. Sampai ketinggian lk. 3220 m masih terdapat berbagai tumbuhan kekayuan, diantaranya kayu tanganan dan wanarasa, dan makin ke atas lagi di puncaknya gundul, yang ada hanya batuan lepas (Hamidi, 1973).

Kependudukan
Daerah G. Slamet mulai dari puncak hingga kakinya dibagi ke dalam 5 wilayah kabupaten. Sektor barat - baratlaut termasuk wilayah Kabupaten Brebes, sektor utara termasuk wilayah Kabupaten Tegal, sektor timurlaut - tenggara termasuk wilayah Kabupaten Purbalingga dan sektor selatan - baratdaya termasuk wilayah Kabupaten Banyumas.
Pendataan penduduk (1998) dititikberatkan pada pengumpulan data kependudukan yang termasuk ke dalam daerah KRB I Dan KRB II dengan radius 8 - 10 km dari puncak. Wilayah tersebut sewaktu-waktu penduduknya akan terkena dampak akibat letusan.
Data kependudukan di daerah G. Slamet dan sekitarnya yang termasuk kedalam daerah KRB I (radius 10 km) dan KRB II (radius 5 km)yang potensi terkena dampak sebanyak 30.957 yang teridir dari 134.246 jiwa yang berada dalam wilayah Kab. Brebes, Tegal, Pemalang, Purbalingga, dan Banyumas.

Sistem Pemantauan
Kegiatan G. Slamet, baik secara visual maupun kegempaan, dipantau secara terus-menerus dari Pos Pengamatan G. Slamet di Desa Gambuhan, Kabupaten Pemalang. Kegiatan kegempaan G. Slamet, dipantau dengan menggunakan seismograf (model MEQ-800) satu komponen, yang dioperasikan secara sistem radio telemetri (RTS). Sumber : PVMBG

Rabu, 22 April 2009

Karakteristik Gunungapi Kerinci

Diposting oleh FPBI di 07.02 1 komentar
Gunungapi Kerinci merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di Pulau Sumatera. Untuk mencapai puncak cukup sulit karena merupakan daerah kawasan hutan cagar alam dan perkebunan teh. Pendakian dapat dilakukan lewat Lubuk Gadang di lembah Liki, mengikuti dasar sungai Timbulun, namun memerlukan waktu cukup lama yaitu selama tujuh hari pp. Selain itu terdapat jalur lain dari Kayuaro melewati pesanggrahan dengan kendaraan roda dua, kemudian berjalan kaki sampai di puncak selama 3 hari pulang pergi.

Demografi
Sebagaimana umumnya di daerah gunungapi yang sangat subur, banyak penduduk yang bermukim di daerah itu. Namun G. Kerinci yang tinggi dan luas, mempunyai daerah pemukiman yang berada jauh di luar kawasan rawan bencana. Hanya satu desa yang berada pada kawasan rawan bencana yaitu desa Sungai Rumpun terletak di pingir sungai Kering, dengan jumlah penduduk kurang dari seribu jiwa, kira kira berjumlah 600 jiwa (data tahun 1990). Sedangkan perkampungan lain umumnya terletak pada daerah punggungan yang berjarak lebih dari 6 km dari pusat erupsi dan relatif aman terhadap bahaya aliran, hanya terjangkau oleh jatuhan piroklastik yang diperkirakan berjarak 8 km dari pusat erupsi.

Nama : Gunung Kerinci
Nama Lain : Peak of Indrapura, G. Gadang, Berapi Kurinci, Korinci
Geografi : 141 , 5 LS -101 16 ' BT
Wilayah Adm : Kab. Kerinci, Prop. Jambi, dan Kab. Solok, Prop. Sumbar.
Ketinggian : 3805 m dpl
Kota Terdekat : Sungai Penuh dan Solok
Type Gunung : Strato

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi
Hasil erupsi Gunung Kerinci banyak menghasilkan batuan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan bangunan, sebagai bahan material dasar untuk pembangunan gedung, jalan raya dan lainya. Selain itu dengan dipeliharanya hutan lindung G. Kerinci, merupakan tempat tersimpannya cadangan air tanah untuk irigasi, air minum di kota dan desa, serta beberapa mataair panas sebagai sumber mineral untuk kesehatan.
Selain itu terdapat pula potensi panasbumi di G. Kerinci, yang sudah sampai ditahapan explorasi, namun belum dimanfaatkan baik untuk keperluan energi listrik, industri atau keperluan lainnya. Selama explorasi panas bumi telah dilakukan 3 buah pemboran explorasi (LP1, LP2 dan LP3) di daerah Lempur, Kecamatan Gunungraya Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, dengan kedalaman pemboran : LP1 1020 m, LP2 650 m, dan LP1 dengan kedalaman 1026 m, pada ketinggian topografi 1360 m dpl. Pemboran explorasi LP1 dilakukan pada tahun 1983 dan pemboran explorasi LP 2 tahun 1988, LP 3 kira-kira 250 m dari LP2 pada posisi lebih tinggi, dengan kedalaman kira-kira 900 m, Pemboran LP 3 ini dilakukan pada tahun 2000, untuk lebih jelasnya dapat menghubungi website Direktorat Iinventarisasi Sumberdaya Mineral, Sub Direktorat Panasbumi, www.dmr.dpe.go.id.

Wisata
G. Kerinci dengan pemandangan yang indah sebagaimana layaknya sebuah gunungapi, dapat dijadikan objek tujuan wisata, di sekitar G. Kerinci terdapat perkebunan teh, mata air panas (di desa Semurup, Sungaipenuh), air terjun serta kawasan hutan lindung dan banyak tempat lainnya, untuk tujuan wisata. Dengan banyaknya flora dan fauna dapat pula dijadikan kawasan wisata, sebagai taman safari, kawasan wisata berburu, dalam waktu-waktu tertentu, untuk membatasi jumlah fauna (misalnya), masyarakat suku anak dalam dan suku-suku disekitar G. Kerinci yang mempunyai adat istiadat dan budaya menarik untuk tujuan wisata. Selain itu G. Kerinci yang besar dan tinggi yang mencapai ketinggian puncaknya 3805 m dpl. banyak menarik minat para pendaki gunung sebagai tujuan wisata pencinta alam, terutama anak-anak SMU dan Mahasiswa. Sumber : PVMBG
 

Mitigasi Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez