Relawan FPBI

Telah 3 tahun, tugas para relawan FPBI dalam aksi kemanusiaan di wilayah Bencana Kegagalan Teknologi yang dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo, di Kec. Porong, Sidoarjo
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2009

Indonesia, Hypermarket Bencana

Diposting oleh FPBI di 04.43 0 komentar
Bencana alam dapat terjadi secara tiba‐tiba maupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Beberapa jenis bencana seperti gempa bumi, hampir tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, dimana akan terjadi dan besaran kekuatannya. Sedangkan beberapa bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, letusan gunungapi, tsunami dan anomali cuaca masih dapat diramalkan sebelumnya. Meskipun demikian kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi. Kejutan tersebut terjadi karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman bahaya.
Mengapa wilayah negeri ini seolah menjadi hypermarket bencana, peristiwa demi peristiwa bencana silih berganti. Menimbulkan kepanikan, kerusakan, kerugian dan jatuhnya korban. Di sisi lain juga memunculkan fenomena saling menyalahkan. Secara geografis, geologis, hydrometeorologis dan demografis wilayah Republik Indonesia mempunyai tingkat risiko yang tinggi.
Dalam eksisting geografis wilayah ini berupa kepulauan yang terletak di daerah garis khatulistiwa. Terdapat 17.583 pulau dan kepulauan, yang dihuni sekitar 230 juta penduduk dalam 33.000 desa, 325 kabupaten/kota, dan 33 propinsi. Penduduk Indonesia terdiri dari kurang lebih 200 etnik/suku dengan 583 bahasa dan 5 kepercayaan agama. Hampir sebagian besar masih hidup dalam kemiskinan sehingga mempunyai kemampuan rendah dan kerentanan tinggi.
Secara geologis negeri ini juga menyimpan ancaman yang tinggi, hal ini terlihat bahwa kepulauan tersebut terletak pada jalur tektonik dan seismik yang terpanjang dan teraktif di dunia. Di sebelah selatan terdapat lempeng Indo-Australia, di sebelah utara terdapat lempeng Eurasia dan di sebelah timur ada lempeng Pasifik yang ketiganya mempunyai pergerakan 12 s/d 100 cm setiap tahunnya. Di samping itu juga terdapat sabuk api (ring of fire) berupa jalur vulkanik sehingga negeri ini terdapat 500 gunungapi yang 129 diantaranya aktif.
Belum lagi secara hydrometeorologis, Indonesia mengenal 2 musim yaitu musim kemarau dan hujan yang memiliki 5.590 sungai besar dan anak sungai yang diidentifikasi 600 sungai diantaranya mempunyai potensi banjir, juga memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang secara ekologis mengalami degradasi dari tahun ke tahun.
Dengan mencermati adanya ancaman yang tinggi (high risk), kerentanan yang tinggi (high vulnerabillity) dan diiringi kemampuan yang rendah (low capacity) ini jadi tak salah apabila Republik ini mendapat julukan Hypermarket Bencana. Berdasarkan data kejadian bencana, Indonesia rata-rata bisa mengalami bencana 1 – 3 kali sehari. Pada rentang tahun 2006-2007 saja terjadi 205 peristiwa, dengan 15 jenis bencana yang menimpa 28 propinsi di Indonesia.
Peristiwa bencana mempunyai kebiasaan berulang di suatu tempat, entah 100 sampai 400 tahun sekali.

Pemahaman Istilah Bencana

Diposting oleh FPBI di 04.39 0 komentar
Dalam rangka menyatukan visi dan misi penanggulangan bencana , diperlukan pemahaman bersama tentang karateristik bencana. Dalam istilah saja berbagai pemangku kepentingan penanggulangan bencana masih belum mempunyai kata sepakat, untuk itu dapat dilihat dalam uraian di bawah ini :

• Bencana (disaster) adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
• Penanggulangan bencana (disaster management) adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
• Bahaya (hazard) adalah suatu keadaan alam yang menimbulkan potensi terjadinya bencana.
• Kerentanan (vulnerability) adalah suatu keadaan yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia (hasil dari proses‐proses fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan) yang mengakibatkan peningkatan kerawanan masyarakat terhadap bahaya.
• Kemampuan (capacity) adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri mencegah, menanggulangi, meredam, serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana.
• Risiko (risk) adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
• Pencegahan (prevention) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.
• Mitigasi (mitigation) adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
• Kesiapsiagaan (preparedness) adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
• Peringatan Dini (early warning) adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
• Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) adalah program atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana baik pada sebelum, saat maupun sesudah bencana.

Sumber : Bakornas PB
 

Mitigasi Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez