Relawan FPBI

Telah 3 tahun, tugas para relawan FPBI dalam aksi kemanusiaan di wilayah Bencana Kegagalan Teknologi yang dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo, di Kec. Porong, Sidoarjo

Selasa, 03 November 2009

Gunungapi Kaba Status Waspada

Diposting oleh FPBI di 05.30 0 komentar
Gunung Kaba pernah aktif karena dipicu gempa tektonik. Kini status gunung berketinggian 1952 mdpl di Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, ini naik dari normal (level I) menjadi waspada (level II).

"Ada peningkatan aktivitas gempa vulkanik dalam beberapa hari ini, namun belum menunjukkan aktivitas yang signifikan. Status Gunung Kaba dinaikkan dari normal menjadi waspada," kata Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Hendrasto di Bandung, Rabu (21/10).

Peningkatan status Gunung Kaba dilakukan sejak Selasa 20 Oktober. PVMBG langsung menurunkan Tim Tanggap Darurat ke Posko Pemantauan Gunung Kaba di Bengkulu.

Menurut Hendrasto, pusat erupsi (letusan gunung api) atau kegiatan vulkanik gunung itu sering berpindah-pindah, dicirikan oleh adanya kawah-kawah yang terdapat pada puncak. Di puncak itu tumbuh kerucut-kerucut kecil dan pusat erupsi masih menunjukkan tanda-tanda kegiatan gunung api.

"Erupsi terakhir Gunung Kaba terjadi pada 26 Maret 1952. Saat itu ditandai dengan abu letusan dan terdengar suara gemuruh," tutur Hendrasto.

Pada tahun 2000 juga terjadi peningkatan kegiatan kegempaan gunung Kaba yang dipicu gempa tektonik Bengkulu yang berkekuatan 7,8 skala Richter pada 4 Juni 2000. Sumber : Inilah.com, PVMBG

Selasa, 08 September 2009

Bandara Minangkabau Rentan Banjir

Diposting oleh FPBI di 21.24 0 komentar
Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Ketaping Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar) dinilai rentan banjir sehingga diperlukan upaya-upaya mengatasi ancaman itu sejak dini.

BIM rentan banjir karena dibangun pada kawasan pesisir pantai yang ketingginya sangat rendah dari permukaan laut, kata anggota DPRD Sumbar dari daerah pemilihan Padang Pariaman, Djonimar Boer kepada ANTARA di Padang, Senin.

Karena itu, pemerintah wajib melakukan upaya untuk mengatasi ancaman banjir yang bisa menganggu aktifitas di BIM nanti, tambahnya.

Dalam hal ini, anggota DPRD Sumbar dari daerah pemilihan Padang Pariaman mendukung pelaksanaan proyek pembangunan irigasi pengendalian banjir Batang Anai dan Batang Kandis yang dapat menyelamatkan BIM dari ancaman banjir.

Dukungan ini, bukan semata-mata untuk mengamankan BIM dari banjir tetapi lebih dari itu ditujukan untuk mengatasi ancaman serupa terhadap kawasan pertanian, perkebunan dan pemukiman warga yang ada di sepanjang sisi aliran dua sungai itu, kata Djonimar.

Sementara itu, Gamawan Fauzi mengatakan, pembangunan irigasi pengendalian banjir Batang Anai dan Batang Kandis memang salah satunya ditujukan untuk mengamankan BIM dari ancaman banjir.

Proyek ini bagian dari pembangunan pengendalian banjir Kota Padang tahap III, tambahnya.

Pembangunan itu dilakukan dengan menormalisasi aliran Sungai Batang Anai yang ada di Kabupaten Padang Pariaman dan Batang Kandis di Kota Padang.

Kemudian, pekerjaan konstruksi peningkatan kapasitas Batang Anai sepanjang 12 Kilometer, Batang Kandis 3,1 Kilometer, termasuk didalamnya Sungai Batang Kasang 4,1 Kilometer.

Setelah proyek pengendalian banjir ini rampung diharapkan areal BIM seluas 500 hektar akan aman dari ancaman banjir, katanya.

Selain BIM, irigasi pengendalian banjir itu juga untuk mengamankan areal seluas 6.000 hektar dari genangan banjir yang terdiri dari kawasan pertanian 13,50 hektar, permukiman 3.500 hektar dan kawasan industri 650 haktar.

Proyek ini diperkirakan membutuhkan dana mencapai Rp884,8 miliar bersumber dari pemerintah pusat, daerah dan bantuan asing.Sumber : Antara

Rekomendasi Gempa Jabar 7,3 SR

Diposting oleh FPBI di 02.53 0 komentar

Laporan singkat hasil penyelidikan lapangan Tim Tanggap Darurat Gerakan Tanah di Wilayah Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, adalah sebagai berikut :

1. Lokasi bencana dan waktu kejadian:

Lokasi bencana alam terletak di Kampung Babakan Caringin, Desa Cikangkareng, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis gerakan tanah terletak pada koordinat 107°10' 37" BT; 07° 19'5" LS. Kejadian bencana gerakan tanah dipicu oleh gempa bumi dengan intensitas 7,3 SR pada hari Rabu tanggal 2 September 2009 jam 14,55 WIB.

2. Dampak bencana yang tercatat di Posko Desa Cikangkareng:

  • 47 orang hilang,
  • 12 orang meninggal dunia (sudah ditemukan)
  • 12 rumah, 1 toko dan 1 masjid hancur tertimbun.
  • 85 rumah rusak berat
  • 167 rumah rusak ringan


3. Kondisi Daerah Bencana:

  • Topografi daerah sekitar bencana mempunyai kemiringan lereng hampir tegak, dengan kemiringan lereng 80 - 90° dan di bawah gawir yang tegak terdapat pemukiman Kampung Babakan Caringin dengan morfologi landai hingga agak terjal dengan kemiringan 5 - 15°. Jenis gerakan tanah adalah runtuhan batuan dengan panjang 400 m, lebar 250 m dan arah N 80° E dan di sertai retakan di lereng bagian atas tebing perbukitan, dengan volume material gerakan tanah sekitar 1.500.000 m3..
  • Berdasarkan Peta Geologi Lembar Sindangbarang (Koesmono, M, dkk, 1996 daerah bencana disusun oleh batuan Formasi Koloberes (Tmk) yang disusun oleh perlapisan batuan sedimen yang berupa batu pasir, tufa kristal, breksi tufaan dengan perlapisan sejajar, kurang mampat. Batuan tersebut telah terkekarkan dengan tanah pelapukan berupa lanau pasiran hingga lempung pasiran berwarna coklat kemerahan dan akibat kemarau panjang tanah tersebut mengalami retak - retak.
  • Lereng bagian atas Kampung Cikangkareng telah mengalami retakan memanjang sepanjang 25 m dengan lebar 10 - 15 cm.

Berdasarkan Peta Zona kerentanan Gerakan tanah Jawa Barat (DVMBG, 2004) daerah bencana termasuk dalam zona potensi gerakan tanah tinggi, artinya daerah tersebut mudah terjadi gerakan tanah apabila dipicu oleh faktor curah hujan maupun gempa bumi dengan intensitas yang tinggi.

4. Faktor Penyebab:

Bencana gerakan tanah di daerah ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

  • Topografi daerah sekitar bencana mempunyai kemiringan lereng hampir tegak, dengan kemiringan lereng 80 - 90°, sedangkan pemukiman menempati daerah yang landai hingga agak terjal yang terletak dibawah tebing perbukitan yang tegak, sehingga jika daerah perbukitan mengalami longsoran maka daerah pemukiman tersebut akan berpotensi untuk terlanda material longsoran.
  • Adanya perselingan batuan yaitu batu pasir, batu lempung dan breksi tufaan dengan perlapisan mendatar yang telah mengalami pengkekaran sehingga ketika terjadi gempa dengan sekala 7,3 SR maka batuan yang telah terkekarkan mengalami goncangan sehingga terjadi runtuhan batuan dan materialnya meluncur ke daerah pemukiman.

5. Mekanisme Gerakan Tanah

Lereng yang tegak dan memanjang yang berada di sebelah Barat Desa Cikangkareng dibentuk oleh batuan batu pasir, batu lempung dan breksi tufaan dengan perlapisan mendatar dan batuan tersebut telah mengalami pengkekaran. Akibat kemarau panjang maka tanah pelapukan yang berada diatasnya yang berupa lanau pasiran hingga lempung pasiran mengalai retak - retak. Dengan adanya gempa bumi dengan kekuatan 7,3 SR maka batuan yang telah terkekarkan tersebut mengalami goncangan sehingga batuan dan tanah yang berada diatasnya runtuh dan materialnya meluncur ke daerah pemukiman yang relatif landai.

6. Rekomendasi

Daerah di sekitar lokasi kejadian bencana gerakan tanah masih berpotensi terjadi gerakan tanah oleh karena itu direkomendasikan :

  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar kejadian gerakan tanah dan yang menghuni di lereng bagian bawah dari lereng yang sudah mengalami retakan harus selalu waspada, karena di daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan, terutama pada musim hujan.
  • Untuk merencanakan pemukiman baru maka harus memilih lokasi yang menjauhi tebing perbukitan yang tegak tersebut yang berjarak lebih dari 500 m dari ujung tebing bukit.
  • Segera menutup retakan yang terjadi dengan tanah lempung dan dipadatkan, agar air permukaan tidak masuk ke dalam tanah.
  • Agar melakukan penanaman pepohonan yang berakar kuat dan dalam pada sekitar daerah retakan.
  • Jika terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi maka penduduk yang bermukim di Kp. Sukaresik dan Kp. Cikangkareng agar mengungsi ke tempat yang lebih aman yaitu menjauh dari tebing perbukitan yang lereng bagian atasnya sudah retak. Sumber : PVMBG

Senin, 31 Agustus 2009

Pertanian Organik Antisipasi El Nino

Diposting oleh FPBI di 02.02 0 komentar
RAMALAN datangnya El Nino yang bakal membawa kekeringan berkepanjangan pada 2010 butuh diantisipasi sejak dini. Untuk jangka pendek, tentu intensifikasi hasil pertanian ialah jawaban bagi kondisi stok pangan saat ini. Adapun jangka panjangnya, dibutuhkan kebijakan pertanian yang adaptif terhadap fenomena alam.

Adalah kelompok tani (klomtan) Rukun Tani asal Desa Karang Jambe, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang belakangan sibuk beralih ke sistem pertanian organik meski dampaknya hasil panenan mereka anjlok.

Toh, Purwoko, ketua klomtan, menuturkan bahwa puluhan petani dalam kelompok itu tidak lantas kecewa. "Meski dengan pertanian organik hasil panenan turun 1 ton, kami tidak kecewa karena sudah tahu sebelumnya bahwa ada risiko yang harus ditanggung," kata dia. Saat bergabung dengan program budi daya pertanian organik SRI (System of Rice Intensification) Departemen Pertanian, penyuluh sudah memberi tahu dan mengajak petani melakukan studi banding bahwa efek awal mengubah pola pertanian konvensional menjadi organik ialah penurunan produksi.

Dan, hasil nyata peralihan tersebut memang tidak bisa instan dan langsung memperoleh panenan banyak. Butuh waktu dua sampai tiga kali penanaman untuk mengembalikan hasil produksi cara organik sama atau bahkan melebihi cara konvensional.

Seusai studi banding, Purwoko bersama 38 anggotanya paham bahwa peralihan tersebut sama saja dengan mengubah tekstur tanah supaya lebih baik dan subur. Mereka juga belajar dari pengalaman petani lain yakni petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Organik Banyumas (Hipormas).

Menurut Ketua Hipromas Sugeng Abdurrahman, hasil pertanian organik pada awal budi daya memang jauh menurun. Dengan luas tanam sekitar 1.750 m2 maka panen yang dihasilkan hanya 2,5 kuintal saja, sementara jika menggunakan bahan kimia anorganik panenan bisa mencapai 4 kuintal. Tetapi jangan kecil hati, setelah tahun kedua dan ketiga produktivitas bisa menyamai pertanian konvensional.

"Sebagai awal, tanah sawah yang akan diolah dengan cara organik setidaknya membutuhkan 5-6 ton pupuk kandang dicampur jerami. Tetapi setiap awal musim penggunaan pupuk justru semakin menurun jumlahnya, hingga mencapai 1-1,5 ton per hektare," ujar Sugeng.

Meski begitu, kalau petani konsisten, ke depannya kondisi petani organik lebih sejahtera daripada petani yang masih berkutat pada pertanian konvensional," ujar Sugeng.

Sugeng, misalnya, hanya dengan memiliki lahan seluas setengah bahu atau sekitar 3.500 m2, ia tidak menjadi `miskin'. Bahkan, sekarang hasil panennya melebihi para petani konvensional yang menggunakan pupuk dan obat kimia produksi pabrik.
"Sekarang setiap hektare panen saya bisa mencapai 6,2 ton. Kalau petani konvensional, rata-rata hanya mencapai 5,5 ton saja," ujarnya.

Irit air Tidak hanya itu, pertanian organik ternyata akan lebih adaptif terhadap perubahan iklim yang terjadi. Misalnya saja, budi daya itu lebih sedikit membutuhkan air sehingga sangat cocok ketika menghadapi datangnya El Nino.

"Telah kami buktikan kalau pertanian organik itu tidak perlu membutuhkan air yang banyak. Misalnya, untuk pertanian konvensional butuh sekitar 5 hingga 10 sentimeter (cm) air untuk menggenangi tanaman padinya. Kalau pertanian organik, cukup hanya 1 cm saja. Bahkan, pada masa pertumbuhan, yang penting basah tanahnya," kata Purwoko.

Selain itu, dengan pertanian organik petani tidak perlu lagi membeli pupuk anorganik atau pestisida kimia. Mereka dapat memanfaatkan jerami atau pupuk kandang untuk diproses menjadi pupuk organik.

Ketika menghadiri panen perdana padi organik SRI di Desa Karang Jambe tersebut, Direktur Pengelolaan Lahan pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian, Amir Hartono, juga menyatakan pertanian organik menjadi salah satu solusi cara pertanian dalam menghadapi perubahan iklim.

"Cara pertanian organik itu memang irit air. Dari kajian dan pengalaman yang ada, pengiritan air irigasi bisa sampai 40% jika dibandingkan dengan pertanian konvensional," tambahnya. Sumber : Media Indonesia.

Rabu, 26 Agustus 2009

Gelombang Merauke Capai 3 Meter

Diposting oleh FPBI di 05.06 0 komentar
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan tinggi gelombang di perairan Merauke mencapai 2-3 meter sepanjang Rabu (26/8) pagi hingga malam nanti.

BMKG yang prakiraannya dipantau di Jayapura, Rabu (26/8) pagi, menyebutkan, gelombang dengan tinggi yang sama juga berpeluang terjadi di perairan utara Aceh, perairan Bengkulu hingga barat Lampung serta perairan selatan Banten hingga Jawa Tengah. Sementara itu, berkaitan dengan cuaca, BMKG memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai hujan deras disertai kilat dan angin kencang yang berpeluang terjadi pada Rabu (26/8), di Papua tengah dan Papua timur bagian utara serta Papua Barat.

Peringatan yang sama juga berlaku untuk daerah Maluku bagian utara dan tengah, Sulawesi bagian utara dan tengah, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Timur, Sumatera bagian utara dan tengah serta pesisir barat Sumatera. Sementra itu antara Kamis (27/8) hingga Jumat (28/8) hujan deras disertai angin kencang dan petir mungkin terjadi di Papua Tengah dan Papua Timur bagian utara, Papua Barat serta Maluku bagian utara dan tengah.

Selanjutnya di Sulawesi bagian utara dan tengah, Kalimantan Timur, Sumatera bagian utara dan tengah serta pesisir barat Sumatera bagian utara dan tengah. Adapun antara Sabtu (29/8) sampai Senin (31/8), BMKG memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai hujan deras disertai angin kencang dan kilat yang berpeluang terjadi di Papua Tengah dan Papua Timur bagian utara, Papua Barat serta Maluku bagian tengah. Berikutnya di Sulawesi bagian tengah dan tenggara, Jawa bagian barat, Kalimantan Timur, Sumatera bagian utara dan tengah serta pesisir barat Sumatera.

Adapun prakiraan cuaca Selasa hingga Kamis (27/8) di sejumlah daerah di Papua menunjukkan peluang hujan dan berawan. Hujan ringan diperkirakan terjadi di Jayapura dan Biak dengan suhu berkisar 24-32 derajat selsius. Di Manokwari, hujan ringan diprediksikan turun dengan suhu minimum 25 derajat dan maksimum 31 derajat. Sementara hujan sedang dengan suhu 24-31 derajat mungkin terjadi di Sorong. Adapun cuaca berawan berpeluang terjadi di Merauke dengan suhu rata-rata 22-31 derajat selsius. Sumber : Media Indonesia
 

Mitigasi Copyright 2009 Reflection Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez